Kebakaran Besar di Pejaten, 27 Pemadam Dikerahkan: Tewaskan seorang bocah

imageJAKARTA, JUMAT-Kebakaran melanda permukiman padat penduduk di Jalan Siaga  Raya, Pejaten, Jakarta Selatan, Jumat (11/7). Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan telah mengerahkan 27 mobil pemadam untuk menjinakkan api.

“Kami sudah menurunkan 27 unit mobil pemadam, dan api sekarang sudah mulai bisa dijinakkan,” ungkap seorang petugas Suku Dinas Pemadaman Jakarta Selatan kepada Kompas.com.

Belum diketahui berapa jumlah kerugian dan berapa korban jiwa akibat peristiwa ini. Polisi dan petugas masih berada di lokasi untuk melakukan penyelidikan.(C9-08)

Petugaskan Padamkan Api di Pejaten

JAKARTA, JUMAT – Suku Dinas Pemadaman Kebakaran Jakarta Selatan berhasil memadamkan kebakaran di Jalan Siaga Raya, Pejaten, tepatnya di samping Kantor Kelurahan Pejaten Barat.

Menurut keterangan Andi, kepada Traffic Management Centre Polda Metro Jaya, api berhasil dipadamkan petugas sekitar pukul 07.15.

“Tadi memang Suku Dinas Pemadam Kebakaran mengerahkan lebih dari 15 mobil pemadam untuk memadamkan api, tapi sekarang sebagian besar sudah bisa dipadamkan,” tutur Andi.

Imbas dari kebakaran ini sudah pasti adalah kemacetan lalu lintas. Tidak ada kebakaran saja arus lalu lintas dari Pasar Minggu menuju Pancoran sudah sangat padat.

 

Bocah Tewas Terpanggang di Pejaten

JAKARTA, JUMAT – Kebakaran yang terjadi di Jalan Siaga Raya, Kelurahan Pejaten Barat, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (11/7), menewaskan seorang bocah berusia empat tahun bernama Saripuddin.

image Menurut keterangan saksi, Saripuddin tewas terpanggang di dalam lapak milik orangtuanya. “Saat terjadi kebakaran, ia hendak mencari ibunya di dalam lapak, ternyata malah terjebak dalam api,” tutur seorang saksi.

Saripuddin adalah putra keempat pasangan Mamat dan Suwartini, pemimpin para pemulung yang mendiami Jalan Siaga Raya, tepatnya di sebelah Kantor Kelurahan Pejaten Barat. Selain Saripuddin, sebanyak delapan orang mengalami luka bakar akibat peristiwa itu. Seluruh korban kini dirawat di Rumah Sakit Siaga.

Kebakaran menghanguskan sebanyak 40 lapak milik para pemulung yang mendiami kawasan Pejaten Barat. Sebanyak 70 kepala keluarga harus kehilangan tempat tinggal akibat kejadian. Menurut Lurah Pejaten Barat Fuad, kebakaran diduga akibat korsleting sekitar pukul 05.30.

Hingga berita ini diturunkan, api sudah bisa dipadamkan setelah Suku Dinas Pemadaman Kebakaran menurunkan 27 unit pemadam. Namun, penyebab resmi kebakaran ini masih dalam penyelidikan polisi.(C9-08)

 

Musibah itu Mengubur Asa…

Kebakaran selalu menimbulkan duka cita dan ratap tangis. Kebakaran, yang terjadi di Jalan Siaga Raya RT 12/14 , Pejaten Barat, Rabu (11/7) di Jakarta, telah merenggut nyawa seorang bocah, Saripuddin (4 tahun). 

Kelima orang itu menangis tersedu-sedu di dalam Kantor Kelurahan Pejaten Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mereka adalah keluarga Saripuddin, Mamat (42), ayah Saripuddin, Roni (14), Abas (12), Ranti (8), dan Mansyur (2). Berkali-kali Mamat terjatuh pingsan karena tak kuasa menghadapi kenyataan bahwa anak laki-lakinya telah tiada. Beberapa kerabat dekat tak henti-hentinya menenangkannya dan memintanya istighfar.

Beberapa saat kemudian, Mamat benar-benar tersadar. Namun, tatapan matanya kosong, seolah menyesali diri karena tidak kuasa menolong anaknya yang belum sekolah itu. Mamat bukan hanya kehilangan harta bendanya, namun juga buah hatinya. Musibah tersebut terjadi begitu cepatnya. Kebakaran, yang melahap 40 lapak yang berdiri di lahan seluas 5000 meter persegi, terjadi sekitar pukul 05.30 WIB, dimana sebagian warga lapak tersebut masih terlelap. Istrinya, Suartini (40), yang pertama kali mengetahui musibah tersebut. Ia kemudian segera membangunkan Mamat, dan segera bergegas keluar, membawa serta anak-anaknya. 

Apa lacur, pada saat itu Mamat terpikir untuk mengambil uang hasil usaha membuka playstation, yang sudah dua tahun tidak pernah digunakan. Bos pemulung ini bercita-cita membangun rumah dari tabungan tersebut. Mamat tidak sadar, Saripuddin, yang dikenal sangat dekat dengannya, membuntutinya dari belakang. Mamat masuk kembali ke rumahnya, begitu juga Saripuddin. 

Keadaan rumahnya sudah setengah terbakar. Namun, Mamat tetap memaksakan diri. Tiba-tiba, sebelum ia sempat mengambil tabungan tersebut, ia tertimpa reruntuhan rumahnya dan terjatuh. Pada saat itu keadaan di dalam berasap, dan api semakin besar. Mamat pun memutuskan untuk keluar. Ia tidak menyadari bahwa pada saat itu Saripuddin terperangkap, sehingga akhirnya merengang nyawa di dalam, sampai akhirnya petugas menemukkan jenazahnya yang sudah terbakar, usai api dipadamkan. 

“Saya sekarang tidak tahu harus kemana. Rumah saya hanya di sini. Saya berharap pemerintah mau membantu kami,” ujar Mamat lirih kepada Kompas.com di tempat penampungan sementara di belakang kelurahan.

Tini (25), tetangga korban, mengatakan, Saripuddin layaknya bocah lainnya. Ia juga biasanya membantu ayahnya memulung. Saripuddin sama seperti bocah lainnya, masih suka main-main, dan melakukan kenakalan anak-anak . Ia juga sering membantu ayahnya memulung.

Kristina (40), salah satu warga lapak, tetap bersyukur walaupun rumahnya terbakar, namun suaminya Yoseph Tena (51) dan ketiga anaknya, Lena (19), Tika (11), dan Juliana (6), tetap selamat. Baginya, keselamatan anaknya adalah yang pertama dan utama.

Kristina, yang ditemui Kompas.com pada saat mencari barang-barang yang tersisa di antara puing-puing reruntuhan rumahnya , mengatakan, pada saat musibah itu terjadi, ia sedang menyiapkan makanan untuk suaminya , yang bekerja sebagai satpam, dan Lena, sekitar pukul 05.30 WIB. 

“Kami hanya sempat menyelamatkan akte lahir dan ijasah. Lainnya, hanya baju yang kami pakai saja. Saya benar-benar gemetar saking ketakutannya. Saya tidak sempat terpikir yang lain,” ujar Kristina sendu. 

Namun, Kristina cemas bagaimana anak-anaknya bersekolah. Pasalnya, peralatan sekolah yang ia sudah beli, seperti, seragam, baju, buku pelajaran dan perlengkapan lainnya, yang ludes terbakar. Pada saat ini, Kristina dan keluarga ditampung oleh keluarga suaminya. 

Kepada Kompas.com, Tika pun mengatakan bahwa ia tetap bersekolah. “Tidak apa-apa tidak ada seragam,” tutur Tika, pelajar kelas 5 di Sekolah Strada Pejaten. 

Wahab (50), bapak tiga anak, yang juga ditinggal di lapak, mengaku sangat terpukul. Ketika ditemui di tempat penampungan sementara di belakang kelurahan, ia sedang tidur ketika musibah itu terjadi. 

Ketika tersadar, Wahab, yang sehari-hari berjual-beli barang bekas, langsung refleks menyelamatkan diri. Ketika sudah keluar rumah, ia teringat anak laki-laki semata wayangnya, Rianto (9). Ia nekad menerjang rumahnya yang setengahnya sudah dilalap api, untuk menyelamatkan buah hatinya. 

Rianto luput dari kematian , dan hanya mengalami luka bakar ringan di wajah, tangan, dan dadanya. Namun, ayahnya mengalami luka bakar yang lebih serius, yaitu hampir di sekujur lengan dan punggung. Rianto mengatakan, istrinya, Dewi (45), pada saat musibah itu terjadi sedang menginap di Pancoran, Jakarta. Ia dan keluarga tidak berencana untuk tinggal di tempat lain. 

Pada saat ini, Unit Penanggulangan Bencara PMI Cabang Jakarta Selatan, sudah mendirikan dapur darurat, dan menyiapkan makanan untuk warga lapak. Petugas PMI dibantu oleh warga sekitar. Rencananya, dapur darurat tersebut akan berada di lokasi paling lama tiga hari. (C9-08)

Sumber: Kompas

NB: Bagi yg mau menyumbang silahkan hubungi Humas DPC Pasar Minggu (Nanang 0856 8935 608, nawal_nashrullah [at] yahoo [dot] com }. Dana bantuan selanjutnya akan didistribusikan oleh DPRa Pejaten Barat, kecamatan Pasar Minggu)

Tinggalkan Balasan